Wednesday

kepergian

Wednesday, January 10, 2007

Lazimnya, dalam sebuah kepergian, yang pergi lebih ringan daripada yang ditinggalkan. Lebih ringan untuk melupakan.....

Yang pergi akan menemui beribu suasana baru..., tempat-tempat baru..., teman-teman baru..., sukacita baru..., pengalaman-pengalaman baru..., yang pelan tapi pasti semua itu akan mengisi dan menggantikan kenangan lama. Sementara yang ditinggalkan lazimnya tetap berkutat dengan segala kenangan itu....

Namun anehnya (dan sayangnya), aku bukan termasuk golongan orang-orang lazim. Baik pergi meninggalkan..., ataupun berdiri ditinggalkan..., aku tetaplah jadi persona masa lalu dengan tangan terikat ke belakang sementara yang lain bergerak dengan mulusnya melaju.

Jika aku adalah pihak yang meninggalkan, berjalan tegak ke depan benar-benar perjuangan hebat, seolah aku bergerak melawan arah angin. Bukan! Bukan karena aku tidak antusias. Aku benar-benar exicted dengan segala sesuatu yang baru. Hanya saja..., ada beberapa hal yang membuatku terus menengok ke belakang. Yang tidak rela kulepaskan.....

Jika aku adalah pihak yang ditinggalkan, melanjutkan kehidupan adalah perjuangan yang lebih hebat lagi. Dan pada posisi inilah aku berdiri sekarang. Istilah menghitung hari benar-benar terjadi secara tak sadar sebelum masanya sebuah kepergian lagi.... Lucunya, aku benar-benar membantu proses kepergian itu. Bodoh!

Pernahkah otak ini berpikir begitu rumit, hingga pada akhirnya badanmu bergerak secara plin-plan bahkan secara sadar menyakiti diri sendiri? What a great power of thought! Mungkin, jika aku mencoba berpikir bahwa proses kepergian adalah lazimnya sebuah tahap kehidupan tanpa ada dampak apa-apa terhadap diri kita, mungkin..., aku akan baik-baik saja. Bukankah Ada Yang Tidak Pernah Pergi dari hidup kita? Sayangnya..., diri kitalah yang senantiasa pergi menjauh dariNya....

siang yang semakin panjang

Monday, December 11, 2006

Tidakkah kalian memperhatikan waktu isya dan shubuh yang semakin menjauh?

Sejak ramadhan, shubuh tidak pernah melebihi pukul 04.10. Pun isya selalu bertahan di jam19.00. Sedangkan pada saat yang sama di tahun-tahun lalu..., shubuh senantiasa maju mendekati jam 04.30. Bukannya bermain perasaan, tapi...rasanya ada sesuatu di balik ini....!

Okay...okay...! I'm over-reacting. Tapi ada logika juga kan di sana? Jika alam berubah, pasti ada sesuatu yang menyebabkan perubahan itu! Lihat saja musim hujan yang terlambat datang. Atau tahi-tahi burung di sepanjang jalan ganesa yang benar-benar mengganggu mata yang memandang!! Pasti ada sesuatu yang salah! Kalaulah kata "salah" itu tidak tepat, pasti ada sesuatu yang berbeda dari yang biasa!! Dan apakah hanya segelintir orang yang memperhatikannya?

"Lalu apa masalahnya?" Mungkin itu pertanyaannya ya? Entahlah. Yang pasti sedikit banyak, perbedaan situasi itu membuat perubahan juga pada kebiasaan, cara pikir, dan... suasana hati :p. Bagaimana tidak, sedangkan waktu shubuh semakin berkompetisi dengan waktu tidurku. Dan pekan ini 3 kali aku kalah!! Dan siang yang semakin panjang..., serasa membuatku untuk beramal lebih banyak lagi.... Dan melupakan masalah-masalah pribadi yang seringkali muncul kala malam....

Once again... I fired someone!

Tuesday, December 05, 2006

Sekali lagi..., i have to fire someone...!
Tapi kali ini lebih damai untuk dilakukan. Lebih ikhlas untuk dijalani.

Setahun sudah dia melewati masa percobaan [mungkin sama sepertiku, meski tanpa 3 project yang menguras keringat dan emosi!!!!]. Lalu di-extend 1 tahun karena ada masalah di urusan kesehatan. Dia masih muda [tapi uda nikah :p], namun kadar kolesterol dan asam uratnya amat tinggi [bayangkan! kolesterolnya 320 mg/dl dari batas maksimum 200 mg/dl]. Dan dari sinilah semua bermula....

Setahun ini, dia amat rajin, penurut, mampu bekerja dalam kelompok, dan skill teknis yang lumayan. The point is..., dia amat dibutuhkan di sini. Ditambah lagi, berkat growth bisnis yang tinggi, sekarang pabrik benar2 shortage karyawan! Ga rela lah melepas satu pun karyawan. Apalagi karyawan yang potensial.

Sayangnya, HRD tidak mau main dadu. Aturan kesehatan itu sudah baku. Extension 1 tahun itu harusnya sudah cukup untuk menurunkan level kolesterolnya. Sayangnya, selama 1 tahun itu, dia berjuang sendiri.... Poliklinik perusahaan dan HRD [including me! hiks!] tidak close monitoring keadaannya. Dan hari ini adalah saatnya mengambil keputusan untuk mencukupkan masa percobaannya..., untuk tidak diperpanjang jadi karyawan tetap...!

Dengan lugu, dia bercerita banyak tentang keadaannya, cita-cita dan keinginannya, setelah kusodorkan kondisi itu. Dia sudah paham posisinya. Dan dia siap untuk diberhentikan. Bahkan, dia punya rencana usaha mandiri. Dalam hati, aku makin merasa kehilangan kalau dia diberhentikan....

Tapi ada satu pernyataan dari seniorku. "Jangan mengambil rezeki orang. Kamu dan perusahaan mungkin butuh dia, tetapi bisa jadi, Allah membuat kondisi kesehatannya seperti itu sebagai pintu supaya dia sukses di jalan lain. Di usaha mandirinya misalkan. Kita tidak pernah tahu. Tapi kita tidak boleh memaksakan."

Oleh karena itulah, hari ini..., dengan damai..., aku melepas dia. Rasijo namanya. Orang baik dari sekumpulan pribadi yang kadang aku sulit mengerti. Ungkapan terbaik dari seniorku, "Kamu tahu? Orang baik akan selalu menemukan jalan yang lebih baik..., dimanapun dia berada..., bahkan saat seluruh manusia menutup pintu di depan mukanya!"

you see? i am happy man...!

Monday, September 25, 2006

two days before now... i'm such a creepy happy...!
because i knew the sunset was going to bring a great new day...
because there's a moment for another changes...
to a better i am.

yesterday... i'm enourmously happy...!
because i started those days with complete family...
because i stepped the first days with someone i care the most...
and i closed my day with a precious chat about means of sharing & caring...

today...
i'm gratefully happy...!
because my colleages in the office seem to try a way to recite...
everyone try to enhance their soul to be closer to the creator...

you see? i am happy man...

asimtot tak berkelanjutan

Thursday, September 14, 2006

Ibarat sebuah asimtot, perasaan benci bisa begitu berkembang tak terbatas. Seperti palung pasifik yang entah dasarnya di kedalaman berapa. Pendek kata, tak terhingga!

Azimuth. itu asal katanya. Berarti harfiah ukuran sudut atau letak bintang. Dan oleh pakar kalkulus diadaptasi jadi sepotong asimtot yang menunjukkan kurva menuju titik tak hingga..., seperti bintang dari kejauhan..., seperti nilai tangen dalam sudut 90 derajat. Dan kurva tangen itulah jejak-jejak kebencianku terekam kuat. Menanjak perlahan dari nilai nol pada sudut 0 derajat, hingga berujung tak hingga di sudut 90 derajat.

Tapi di titik itu pula, jejak kebencianku menghilang. tatkala seseorang tersadar dari sebuah motif yang membuatku antipati terhadapnya, lalu dengan berani mengatakan satu kata maaf. Dan, zippp..., seketika kurva itu kembali ke titik nol. Membuyarkan semua jejak amarah tertahan. Benar-benar habis seperti air laut menggerus pasir pantai.

Akan tetapi, entah! Apakah kurva berikutnya akan konstan bernilai nol..., menggurat sebuah garis seperti detak jantung orang mati..., ataukah akan berubah menjadi sebuah perasaan persahabatan yang begitu hangat lagi... Untuk sekarang, aku tidak peduli. Yang terpenting, asimtot kebencian itu sudah tak berlanjut lagi. Dan aku bisa kembali hidup normal sekarang...

Means of forgiving

Saturday, August 26, 2006

Today wishes:

i hope...
i can love like i've never been hurt before...
i can live like i would die tomorrow...
i can fly like i don't need a pair of wings...
i can sing like no one is listening to me...
i can work like i don't need money for it...

memory is memory...there's no strenght within it!

pengganti yang lebih baik...

Tuesday, August 22, 2006

Tidak kerap lagi aku menulis di blog ini...Kau tahu?Ada yang lebih menyenangkan untuk menutupi hari-hari sepi...Ada yang lebih menarik untuk dilimpahi kasih...Ada yang lebih berharga untuk saling mengisi dan berbagi...Ada yang lebih membahagiakan untuk ditemani...

***

Selepas lelah dari sebuah perjalanan penuh peluh, kami berlabuh di pojok tenda warung dari selembar terpal dan enam pucuk suluh. Daftar menu dari sebuah kertas berlaminating melintang di atas meja membatasi kami. Dia berujar, "teman dekat biasanya berbagi makanan. ganda pesan apa? biar aku pesan yang lain." Maka semangkuk cumi lada hitam, sepiring capcay cumi, dan sepiring nasi kami bagi dua. Dalam hati, aku mendeklarasikan diri. Tidak mau kehilangan kesempatan untuk menyayangi lagi....

***

Dalam pelukan tragedi, dia masih tersenyum tegar. Hanya aku yang tahu. Karena itu, hanya akulah yang tidak mampu membantu! Kuharap aku tidak hanya teman dalam senang. Aku ingin menjadi sahabat dalam perjuangan.

***

Aku masih ingat Febriyandika, Maya, dan Indri semasa smp kelas 1 dan 2. Kami adalah kuartet dengan 4 karakter yang amat berbeda. Tapi kami sepakat untuk saling menjaga dalam kondisi apapun, sepakat untuk pulang sekolah berjalan kaki sampai rumah, sepakat untuk saling mentraktir susu murni strawberry atau es krim Apollo sesekali, sepakat untuk cepat berbaikan setelah bertengkar, sepakat untuk ikut bersedih saat salah seorang menangis...

Aku masih mampu membayangkan wajah-wajah Yano, Triza, Firman, Ryan, Ucup, Ismail, dan Heru semasa kelas 3 smp. Kami adalah 8 "anak baik-baik" diantara "anak-anak berandalan" yang dikumpulkan di kelas pertama (3A) dengan walikelas seorang guru moral dan ppkn. Kami sepakat untuk duduk dalam satu barisan di sebelah utara kelas, sepakat untuk saling bergiliran kumpul di rumah masing-masing, sepakat untuk saling meminjamkan komik dragon ball, sepakat untuk saling mengajari basket dan winning eleven, sepakat untuk tidak berurusan dengan urusan hisap-menghisap kokain.

Aku masih mampu mendengar tawa Sena, kacamata Robby, ndut Fakhrureza, berontaknya Dedi saat dikelitiki.... Sayup-sayup kenangan itu kadang memudar kadang menguat.

Berganti hari..., sepuluh orang duduk mengelilingi seorang alumni. Saat itu, kami yakin inilah keluarga baru kami.... Seusai umptn, dengan polos, kami berjanji. Kami harus bertemu setiap pekan..., tak peduli universitas mana yang akan kami masuki. Dan sampai sekarang, aku masih menangis karena kami tidak bersama lagi.... Di perjamuan terakhir, 3 hari sebelum ramadhan tahun kemarin berakhir..., aku pamit...

Aku ingin mengulang lagi momen summer-camp bersama jemmi, iwa, widya, bustan, iman, rizky, arya.... Itulah "surga" seminggu yang tak terlupakan.

Aku masih merekam saat-saat kebersamaanku dengan aby, deni, dan rochmadi. Ternyata…, akulah yang paling berubah..., karena persahabatan ini....

Dan saat tahun keempat datang, ketiga orang ini yang paling sering menemani. doncoss, donsuk, dan fandy.... Bersama memperjuangkan tugas akhir yang seolah tanpa akhir..., terutama setelah mendengar dosen pembimbing mengatakan, "kamu bisa mengulangnya tahun depan!"

Dan di benakku, masih menderu detik-detik kebersamaan dalam satu asrama. Dengan satu-dua amarah, tiga-empat persahabatan yang sempat beku, lima-enam penghakiman, tujuh-delapan rasa malu, sembilan-sepuluh ejekan tanpa ampun, dan kebahagiaan yang tak terhitung....

***

Baru kusadari, kita selalu diberi pengganti untuk yang pergi...Dan seringkali, itu mengubah kita perlahan pasti...Yang aku sesalkan, tidak setiap momen perubahan itu aku syukuri...Tidak semua teman yang pergi kurelakan lepas dari hati...Aku tidak mau mengulangi kesalahanku kali ini...

Tuesday

yang menusuk...

Tuesday, August 08, 2006

Di sela perjalanan ke depok..., sebuah sms masuk dari seseorang yang dulu pernah kucintai begitu dalam,

"A good quote.. 'jadilah laki-laki, setidaknya utk sehari saja'.. Kata2 yg diucapkan pmimpin HIZBULLAH kpd pmimpin bgs arab yg tdk berani mhadapi kbiadaban israel.."

Dan tiba-tiba dada ini berdebar..., entah karena marah ataukah malu...! Dan kata-kata itu terus mengiang meskipun dalam tidur....

Pesan moral: Jangan pernah mencintai kalau tidak mau sms terbawa mimpi!!

ingin aku jauhkan tanahmu dari dia

Wednesday, July 19, 2006

aku pikir sepetak tanah takkan mampu menyimpan dua ribu tahun sejarah. seperti bayanganku di matamu yang merekah. sebatas itulah yang mampu kulihat dari tanah kalian yang basah. tidak lebih dalam. kugali, yang tampak hanyalah hitamnya tanah.

[lihat! hitamnya tidak benar-benar hitam. ada merah. ada darah...!]

aku kira kalian bersaudara. diturunkan dari nenek moyang yang sama dan menyembah tuhan yang sama. "tapi dia berpaling dari tuhannya," kilahmu. "lalu mengusir dan membunuh nabi-nabinya," lanjutmu. dengan gerakan tiba-tiba kamu genggam sejumput tanah dan menyodorkannya di depan mukaku. "lalu dia membunuhku, dan mengambil tanahku," tuntasmu.

[lihat! jemarimu bergemeretak. sinapsismu berontak karena darah amarah meruak ke udara hingga bergejolak.]

aku sangka sejumput tanah takkan bercerita apa-apa. seperti pasir yang hanya mampu berdesir dari pesisir ke pesisir. tapi seperti pasir pula, tanah menyimpan panas amarah yang sesekali tumpah dan membuncah. atas darah yang tersimbah. atas wanita-wanita yang dianiaya. atas batu-batu yang disapih sebagai peluru.

[aku tidak mampu melihat! dukamu berbeda dengan dukaku. dan aku tak tahu apakah aku mampu menanggung secuil saja dari dukamu. adakah aku berdosa karena sebuah ketidakberdayaan dan jarak yang memisahkan?]

Lelaki yang bercinta untuk mendapatkan inspirasi sastra...

Tuesday, July 11, 2006

Lelaki itu mudah sekali jatuh cinta. Dan dia merasa terberkati dengannya…

Ada dua momen yang paling dinikmatinya. Pertama, pada titik teratas waktu ia menyadari bahwa ia sedang jatuh cinta dan ternyata ada chemistry yang sama. Kedua, pada titik terbawah waktu ia menyadari bahwa cintanya tidak mampu dilanjutkan dan datang satu kemestian akan sebuah perpisahan.

Pada kedua titik itulah ia mampu merasa menjadi pujangga hebat. Karena ia tidak sekadar «mengarang». Lebih dari itu…, ia «mengalami»! Memang, pada prosesnya..., ia adalah manusia biasa. Bahagia..., melambung tiada tara…–hingga sedih... begitu dalam tak terduga. Seringkali ia lupa bahwa ia sedang dalam sebuah panggung sandiwara. Tawa dan tangisnya benar-benar nyata.

Plotnya tidak pernah berubah. Sebuah perkenalan..., kekaguman..., keinginan untuk selalu dekat..., hingga terasa percikan rasa yang sama.... Berlanjutlah pada hari-hari penuh kebersamaan dan sukacita –sampai pada satu kondisi posesif dan cemburu! Berbagai nilai menyerangnya, hingga datanglah saat ia memutuskan untuk berhenti dan berpisah. Untunglah ia selalu mempunyai kemampuan untuk membungkus kenangan dalam sebuah logika pemakluman akan sebuah ketidakabadian. Itulah yang mampu membuatnya bangkit kembali –dan jatuh cinta lagi. Dari sinilah, kisah cintanya selalu bergulir. Dinikmati perannya itu sedemikian rupa hingga berjuta-juta puisi dan cerita terangkai dari tangannya.

Hingga pada satu ketika…, ia mencintai terlalu dalam.... Palung yang sedari dulu ia sangka telah berhasil diselami ternyata jauh lebih dalam..., lebih gelap..., dan lebih berbahaya....
Hingga akhirnya ia benar-benar jatuh… dan luruh!

Bukankah itu cinta?

Tuesday, June 27, 2006

Salah seorang teman melontarkan pertanyaan, “Kapan kamu membicarakan tentang cinta? Apa cuma jadi pajangan judul saja?” Itulah yang membuatku melihat kembali empat postingan yang lalu. Bukankah semuanya bicara tentang cinta?, pikirku. Pikiranku menerawang ke lubang masa lalu....

Pulang pukul setengah dua malam menempuh perjalanan 45 menit..., untuk tidur dan kembali ke kampus jam setengah lima demi menemui adik-adik mentor OSKM..., membuat mereka mengerti apa yang telah aku mengerti setahun kemarin di kampus ini.... Bukankah itu cinta?

Menyelesaikan laporan praktikum di sebelah partner yang tertidur..., menyempatkan diri ke kampus untuk memasang satu baligho dan puluhan umbul-umbul..., dan kembali ke kost partner seolah-olah kita tidak pernah beranjak.... Percayalah, itu cinta!

Bolak-balik cikarang-bandung..., cilacap-jakarta..., mohamad toha-tubagus..., ganesa-antapani..., untuk menemui orang-orang yang dekat di hati.... Aku yakin aku melakukannya karena cinta.

Menulis puisi sembilan malam berturut-turut.... Membungkus sebuah kado meskipun tak pernah tersampaikan.... Mencoba mengikuti hal-hal baik dari orang-orang yang kita kagumi .... Itulah cinta.... !

Jika saja kita lihat lebih dekat, bukankah kita bergerak dari satu cinta ke cinta yang lain? Cinta menjadi driving force terbesar sepanjang masa. Ini bukan ucapan naif. Tapi memang..., cinta lebih kuat dari baja. Lebih luas dari jagat raya....

Lalu..., bagaimana aku tidak membicarakan masalah cinta..., sedangkan aku berada di dalamnya ?

Monday

to be a manager...

Thursday, June 22, 2006

"Manager itu provokator! Bersenjata telunjuk dan bisanya main mulut. No action Talk only!"

Aku cuma tersenyum menatap rangkaian kata di email hari itu. Tumben..., biasanya Ronggo nulis semuanya di kolom subject..., gak ngerasa perlu sama yang namanya badan imel. Otomatis, kita dibikin binun' bin manyun pas nyangka cuma dapet imel kosong. Eh, taunya inti pesen dia tulis semua di judul. Orang yang aneh... [sorry, nggoh].

Tapi bukan itu yang jadi masalah. Sedikit banyak, aku gak suka dengan ucapan di imel itu. So, dengan segera jari-jariku berketak-ketik di atas keyboard.

"Buatku, tugas manager ada 3 macam.
1. Bermain telunjuk. Artinya, dia menyuruh (bahasa kasar dari "mengkoordinasikan") staf-stafnya untuk melakukan sesuatu yang memang sudah jadi job/task dan keahliannya. Manager cukup memberi guideline dan memonitor. Kalau dibilang talk only, up yours. Yang pasti, disini, manager meminta dan menagih.
2. Bermain hati. Artinya, dia melakukan kewajiban yang sama seperti staf-stafnya. Sebutlah, masuk tepat waktu, do safe act, tetap menjaga personal hygiene.... Dan ini critical, karena menyangkut masalah role model. Kalau manager udah belangsak, gimana jadinya dengan staf-stafnya? So, di sini, dia nggak talk only lah!
3. Bermain otak. Artinya, dia melakukan job/task yang berkaitan dengan masalah strategis dan lebih melihat faktor bisnis secara holistik. Menjaga komunikasi juga penting dengan divisi lain, seperti marketing, sales, dan engineering. Jelas, tugas ini nggak bisa sembarang didelegasikan.So, apa manager itu provokator?"

Aku tersenyum lagi. Kali ini dengan alasan yang berbeda. Aku pikir, setidaknya manager mampu membedakan mana yang subject dan mana badan email. So, ga perlu bikin orang bingung gara-gara pesen disimpen di subject kan? =)

posted by ganDA RAHman garNADI at 9:07 PM

at last..., i fired someone...!!!!

Thursday, June 15, 2006

Life can be tougher than you thought...!
But it gives more lesson than you expect...!


Serius..., tidak pernah aku berurusan dengan hajat hidup orang banyak (halah!). Tapi ini benar-benar sejutarius. Lebih serius daripada mengurusi warna baju apa yang aku pakai hari ini. Dan jauh lebih serius dari sekadar patahnya kuku kaki. Oh..., my! Tidak kukira secepat ini aku diberi wewenang untuk "merumahkan" seseorang.

Mata itu mengerjap-ngerjap. Peluh kaget kentara sekali. Mukanya mengarah langsung ke mukaku. Seketika menunduk. "Sedang apa kamu?" suaraku serak menahan ekspresi wibawa yang harus terjaga. Dia diam. Dari sanalah semuanya dimulai...

Aku panggil atasan langsungnya. Lalu kutunjukkan sebuah foto. Hanya kalimat singkat lagi yang keluar, "Menurut Bapak bagaimana?" Mukanya menebal. "Baik, Pak. Saya urus dia. Sudah beberapa kali dia tertidur seperti ini." Aku kira, saat itu..., kami --dua orang yang saling berhadapan dengan tegang-- memutuskan hal yang sama...!!

Besoknya mata yang mengerjap itu tidak ada lagi. Tidak lelah lagi bekerja di sini untuk mencari seonggok rezeki untuk anak istri. "Mengundurkan diri", atasannya bilang. "Oh, itu kata halusnya?" pikirku. Aku kembali ke balik meja. Dengan bayangan keluarga tanpa ayah yang bekerja. Terngiang kata-kataku dulu, "I don't wanna see him do the same next time." Tak kukira..., itu artinya, "Pecat dia!"

posted by ganDA RAHman garNADI at 8:57 PM

Kenapa orang dewasa tidak bahagia...??

Sunday, June 11, 2006

Kata albert, orang dewasa tidak bahagia karena dia memiliki beban di luar dirinya. Dia dituntut harus berpikir kemana tangannya harus mencari sesuap nasi untuk anak dan istri. Dia diminta berbagi dengan suami dalam mengurus sang bayi.

Kata amir, orang dewasa tidak bahagia karena dia memasang standard untuk semuanya. Kemakmuran harus ada parameternya. Kebahagiaan harus ada data terukurnya. Segalanya dibungkus dengan syarat, referensi, angka dan kriteria.

Kata alida, orang dewasa tidak bahagia karena dia tidak berani meninggalkan masa lalunya. Kecewa karena kehidupan sekarang jauh berbeda. Tidak menerima karena keadaan tidak sesuai harapannya. Selalu ada yang dibandingkan.

Tapi bagiku..., orang dewasa tidak bahagia karena dia tidak sepenuhnya dewasa. Karena buatku..., orang dewasa adalah dia yang merelakan apa yang dia mau... lalu memilih untuk melakukan apa yang benar. Kedewasaan menandakan kepahaman yang pasti mengenai apa yang dia tuju.... Dewasa berarti mampu memilah apa yang harus dia pikirkan..., apa yang harus dia simpan..., dan apa yang harus dia tinggalkan. Semuanya menjadi begitu mudah saat dewasa adalah bahagia dengan setiap pilihannya.

Oleh karena itulah..., ada saat-saat dimana seseorang begitu dewasa.... Ada pula saat-saat dimana seseorang kembali kanak-kanak. Hanya masalah bagaimana cara kita mengolah orientasi dan menata hati....

Saat masih SMA, kita bermimpi untuk segera lulus dan menjadi seorang anak kuliahan dengan segala kebebasannya. Setelah sibuk berkutat dengan dosen, himpunan, dan diktat-diktat tebal, kita berharap sangat untuk segera diwisuda dan bekerja. Setelah mulai mencicipi enaknya mendapat uang hasil keringat sendiri, kita ingin segera memiliki keluarga dan tetek-bengeknya. Lalu kapan kita menikmati setiap langkah hidup kita dan berbahagia??

Sesuatu yang debatable..., tapi amat menyenangkan untuk dipertanyakan dan dilihat lebih dekat ke dalam.

Jadi..., menurut kamu..., kenapa orang dewasa tidak bahagia??

Pertanyaan berikutnya..., apa kamu bahagia??

-+-+-+-+-

On becoming an adult...

posted by ganDA RAHman garNADI at 7:20 PM

from this moment....

Sunday, June 04, 2006

Memutuskan untuk membuat sebuah blog sama seperti mencanangkan batu pertama pembangunan rumah kaca. Siap dilihat..., dicermati..., dan dinilai! Demi sebuah i'tikad baik untuk sekadar berbagi... (juga demi sebuah pelarian pikiran yang menggeliat dan emosi yang terikat)..., maka inilah dia! Si Aku..., yang mencari cinta dan surga...

posted by ganDA RAHman garNADI at 1:15 PM