Wednesday, January 10, 2007
Lazimnya, dalam sebuah kepergian, yang pergi lebih ringan daripada yang ditinggalkan. Lebih ringan untuk melupakan.....
Yang pergi akan menemui beribu suasana baru..., tempat-tempat baru..., teman-teman baru..., sukacita baru..., pengalaman-pengalaman baru..., yang pelan tapi pasti semua itu akan mengisi dan menggantikan kenangan lama. Sementara yang ditinggalkan lazimnya tetap berkutat dengan segala kenangan itu....Namun anehnya (dan sayangnya), aku bukan termasuk golongan orang-orang lazim. Baik pergi meninggalkan..., ataupun berdiri ditinggalkan..., aku tetaplah jadi persona masa lalu dengan tangan terikat ke belakang sementara yang lain bergerak dengan mulusnya melaju.
Jika aku adalah pihak yang meninggalkan, berjalan tegak ke depan benar-benar perjuangan hebat, seolah aku bergerak melawan arah angin. Bukan! Bukan karena aku tidak antusias. Aku benar-benar exicted dengan segala sesuatu yang baru. Hanya saja..., ada beberapa hal yang membuatku terus menengok ke belakang. Yang tidak rela kulepaskan.....
Jika aku adalah pihak yang ditinggalkan, melanjutkan kehidupan adalah perjuangan yang lebih hebat lagi. Dan pada posisi inilah aku berdiri sekarang. Istilah menghitung hari benar-benar terjadi secara tak sadar sebelum masanya sebuah kepergian lagi.... Lucunya, aku benar-benar membantu proses kepergian itu. Bodoh!
Pernahkah otak ini berpikir begitu rumit, hingga pada akhirnya badanmu bergerak secara plin-plan bahkan secara sadar menyakiti diri sendiri? What a great power of thought! Mungkin, jika aku mencoba berpikir bahwa proses kepergian adalah lazimnya sebuah tahap kehidupan tanpa ada dampak apa-apa terhadap diri kita, mungkin..., aku akan baik-baik saja. Bukankah Ada Yang Tidak Pernah Pergi dari hidup kita? Sayangnya..., diri kitalah yang senantiasa pergi menjauh dariNya....